Kisah Injil tentang
orang kaya dan Lazarus yang miskin sudah sering kita baca dan kita dengar.
Tokoh Lazarus juga mungkin sering anda dengar. Benar, dia adalah saudara Marta
dan Maria sahabat dekat Yesus yang tinggal di Betania. Saking sayangnya Yesus
pada Lazarus sampai-sampai ketika ia datang ke Betania melayat Lazarus, Dia
menangis. Lazarus kita tahu dibangkitkan Yesus. Tokoh Lazarus yang diceritakan
Yesus dalam bacaan Injil hari ini tidak sama dengan Lazarus sahabat Yesus.
Lazarus hanya menjadi figuran untuk perumpamaan yang mau disampaikan Yesus.
Dalam kisah ini, orang kaya hidup senang dan tak berkekurangan, sementara
Lazarus hidup miskin dan kelaparan. Ia selalu duduk di depan pintu rumah orang
kaya itu, memungut remah-remah yang jatuh dari meja si kaya supaya rasa
laparnya terobati. Singkat cerita kedua-duanya mati. Yang kaya mati menyusul
Lazarus. Kehidupan baru yang dialami keduanya sungguh berbeda jauh. Lazarus
hidup di surga dan dalam pangkuan Abraham sementara si kaya menderita dalam api
hukuman yang bernyala-nyala.
Mendengar cerita ini
kita bisa langsung merasa ngeri. Atau kesan yang bisa selalu muncul adalah
keyakinan bahwa orang yang kaya itu ditolak Tuhan dan pasti masuk neraka.
Sebaliknya yang miskin akan menikmati surga mulia. Apakah memang demikian
maksud Yesus? Apakah Yesus memang berbicara tentang realitas bernama surga dan
neraka? Ataukah dia mau mengatakan sesuatu yang sama sekali lain?
Surga dan neraka
adalah konsep dan keyakinan yang sudah ada dalam Yudaisme dan terus diwarisi
turun-temurun. Bahkan kekristenan mewarisi istilah biblis ini sebagai salah
satu dari beberapa ajaran/katekismusnya. Surga, paradiso adalah tempat
kebahagiaan yang hanya dinikmati oleh mereka yang diselamatkan dan yang hidup
saleh. Sementara neraka (inferno)adalah tempat hukuman bagi mereka yang jahat
dan berdosa. Satu konsep lain yang ditambahkan dalam kekristenan adalah api
penyucian (purgatori). Pada masa lampau istilah-istilah ini begitu ditekankan
sehingga akibatnya memudarkan inti atau pesan penting warta Injil.
Yesus adalah orang
Yahudi juga. Maka dalam pengajarannya dia tentu memakai istilah dan ungkapan
yang sudah akrab di telinga pendengarnya. Surga dan neraka yang disinggung
Yesus dalam kisah Injil hari ini diapakai Yesus untuk menyampaikan satu pesan
penting. Pesan penting itu disampaikan melalui mulut orang kaya ketika ia
berdialog dengan Abraham. Dalam dialog itu kita menemukan bahwa surga dan
neraka adalah istilah yang mau mengungkapkan realitas yang benar-benar ada
yakni kebahagiaan kekal dan hukuman/kebinasaan. Dua realitas ini tak
terseberangi. Si kaya akhirnya meminta supaya Lazarus memberitahu lima
saudaranya yang masih hidup untuk merubah hidup mereka supaya tidak mengalami
nasib yang sama dengannya. " Ada pada mereka kesaksian Musa dan para
nabi", itulah jawaban Abraham. Maksudnya, taurat yang dibawa Abraham juga
titah-titah para nabi sudah cukup menjadi pedoman bagi mereka untuk selamat.
Akan tetapi, di sini
lah puncaknya, yang menarik adalah tanggapan si kaya ini. Ia membantah Abraham.
Menurutnya, kesaksian Musa dan para nabi belum sungguh atau cukup
menyelamatkan. "Harus ada orang yang datang dari dunia orang mati"
dan dia itulah yang bisa menyelamatkan. Inilah kunci kisah ini. Melalui tokoh
orang kaya, tokoh antagonis yang tentu saja tidak mengundang simpati banyak
orang, Yesus malah mewartakan point ceritanya yaknipernyataan identitas dirinya. Dialah yang "datang dari dunia
orang mati" itu untuk menyelamatkan manusia yang berdosa. Dialah yang
menjembatani dunia hukuman dan kebahagiaan. Dia sudah hidup, menderita dan
bahkan mati sebagai orang hukuman supaya manusia ikut bangkit bersama dia dan
hidup hidup bahagia. Jadi Yesus sebenarnya bicara tentang dirinya; bukan
tentang surga dan neraka; bukan juga tentang kaya yang miskin - apalagi sampai
mengatakan bahwa yang kaya masuk neraka dan yang miskin masuk surga. BUKAN.
Kita tidak mungkin
akan mencapai surga dan tetap terus tinggal dalam dunia hukuman kalau kita
tidak menyerahkan diri dan percaya pada Dia. Percuma saja Yesus datang
menyelamatkan kalau kita sendiri menolak Dia. Yang mesti kita cintai dan kita
ikuti adalah Yesus, bukan lainnya, bukan aturan haram dan halal, boleh ini dan
tidak boleh itu. Tidak jarang tindakan baik kita sering didorong bukan oleh
cinta pada Yesus tapi pada rasa takut. Saya memberi sedekah kepada orang lain
bukan karena saya ingin ikut ambil bagian dalam kesulitan / kebutuhannya tapi
karena saya takut masuk neraka. Atau saya mesti rajin ikut kegiatan lingkungan
dan pergi misa setiap minggunya supaya dapat tempat di surga. Surga dan neraka
itu seolah-olah akhirnya menjadi saingan baru bagi Tuhan. Banyak di antara kita
yang tidak sedang mengikuti Dia, tapi menjadi pengkut keyakinan tentang surga
dan neraka. Semoga kita bertobat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar