II
Tawarikh 36:16
“Mereka mengolok-olok utusan Allah itu,
menghina segala firman-Nya, dan mengejek nabi-nabi-Nya”
Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 4; Matius 4; 1
Raja-Raja 21-22
“Saya mencintai pekerjaan saya,” kata Maggie,
seorang perawat yang masih muda, “namun ketika saya memberi tahu orang apa yang
perlu dilakukan agar ia tetap sehat, tetapi nasihat saya tidak dituruti, saya
pun menjadi sangat frustasi.”
Saya tersenyum dengan penuh pengertian. “Saya
pun merasa demikian saat memulai karier editorial saya,” kata saya kepadanya.
“Saat pengarang tidak memperdulikan nasihat saya agar naskah mereka menjadi
lebih baik, saya pun merasa frustasi.”
Kemudian saya menyadari bahwa hal ini mirip
dengan masalah kerohanian. “Jika saya merasa frustasi saat orang tidak menuruti
nasihat profesional kita, coba bayangkanlah perasaan Allah apabila kita
mengabaikan nasihat-Nya.” Dia adalah Pribadi yang paling mengetahui hal terbaik
bagi kita. Akan tetapi, kita kerap kali justru bersikap seakan-akan kita sudah
mengetahui yang lebih baik.
Begitulah kasus bangsa Israel dahulu. Karena
berpikir mereka tahu lebih banyak daripada Allah, mereka pun menuruti jalan
mereka sendiri (II Tawarikh 15,16). Akibatnya, Yerusalem dan Bait Allah jatuh
ke tangan orang-orang Babel.
Allah dengan murah hati mengajarkan hal yang
terbaik (Yesaya 48:17,18), namun tidak memaksa kita untuk melakukannya. Dia dengan
sabar menawarkan sesuatu yang benar dan baik, dan mengizinkan kita untuk
memilihnya.
Pengajaran Allah tidak selalu masuk akal,
tetapi sungguh bodoh jika kita merasa tahu yang lebih baik.
Sumber: Kingdom Magazine Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar