Bacaan Firman Tuhan:
Lukas 23:33-43
*courtesy
of PelitaHidup.com
Yesus disalibkan di tempat yang bernama Tengkorak. Dalam
bahasa Latin disebut Kalvari, kalau dalam bahasa Aram disebut Golgota. Bersama
Yesus ada juga dua orang penjahat yang disalibkan, yaitu disebelah kiri dan di
sebelah kanan Yesus. Kedua penjahat itu telah ikut menghujat Yesus bersama
dengan banyak orang yang menonton penyaliban Yesus, yaitu imam-imam kepala,
bersama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-ngolok Yesus. Perkataan yang
mereka lontarkan pada Yesus, sungguh mengejek dan menghina.
Salah satu dari dua penjahat yang ikut disalibkan bersama
dengan Yesus memperoleh berkat keselamatan dari Yesus. Banyak orang yang
beranggapan bahwa berakhirlah sudah kehidupan Yesus di kayu salib itu. Yesus
diangggap hina, dan tidak punya kuasa lagi. Namun salah satu dari penjahat itu
memiliki cara pandang yang benar tentang penyaliban Yesus, sehingga ia
memperoleh berkat anugerah keselamatan.
Seperti
apakah cara pandang yang benar untuk meraih berkat yang Tuhan sediakan
1.
Tidak ikut arus yang salah
Pada awalnya penjahat ini mengikuti orang banyak, ikut menghujat
Yesus (Matius 27:44). Ia kemudian mengubah cara pandangnya yang salah, dan
menyadari adalah sebuah kekeliruan jika tidak memandang pada Yesus dan kuasa
kebangkitanNya. Penjahat ini juga menyadari bahwa ia adalah orang jahat yang
seharusnya tidak layak mendapat anugerah dari Tuhan. Penjahat ini tidak mau
lagi ikut arus keadaan yang dilihatnya, seperti banyak orang, pemimpin-pemimpin
menghujat Yesus dan prajurit-prajurit mengolok-ngolok Yesus. Ia mengubah
pendiriannya. Penjahat itu mengubah cara pandangnya tentang Yesus. Penjahat itu
mengalihkan perhatiannya dari Yesus yang menderita tersalib bersama dengannya,
kepada Yesus yang akan menang dan akan datang sebagai Raja. Itulah alasan
baginya untuk menghargai Yesus, dengan ucapannya kepada Yesus, : “Yesus,
Ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja”, dalam ayat
42.
Sekiranya
ia belum merubah cara pandangnya itu, masih mempertahankan cara pandangnya yang
lama tentang Yesus, sama seperti mereka yang menghujat Yesus, maka ia tentu
tidak mungkin berkata demikian kepada Yesus. Tetapi penjahat itu melawan
kenyataan tersebut, tidak ikut arus lagi, karena ia telah memiliki sebuah cara
pandang yang benar tentang Yesus. Iapun berubah, yang tadinya ikut menghujat
Yesus menjadi orang yang menghargai Yesus dan mengagungkanNya sebagai Raja.
Penjahat itu kini lebih percaya pada kebenaran Yesus daripada kenyataan
penderitaan yang sedang terjadi dialami oleh Yesus.
`Barangkali
dalam menghadapi persoalan kehidupan ini, kita sudah tak berdaya lagi, karena
dikuasai oleh persoalan yang sulit, mungkin dalam masalah pekerjaan, ekonomi,
keluarga, sakit penyakit, fitnah atau akibat dari kesalahan/dosa yang kita
perbuat. Persoalan itu terasa begitu berat, rumit dan mungkin telah menyiksa
bathin dan jiwa kita. Dalam keadaan seperti ini rasanya semuanya telah hancur,
tidak ada orang yang menolong, tidak ada harapan lagi untuk perbaikan,
kesembuhan atau pemulihan, selain pasrah pada masalah, dengan susah dan sedih
hati.
Bila
hal ini sedang dialami, ubahlah cara pandang itu karena hal ini akan membuat
putus asa dan tawar hati serta menjadi lemah dan tak berdaya.
“Jika
engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu”, Amsal
23:10.
Masalah boleh ada, persoalan boleh datang bertubi-tubi tapi
milikilah cara pandang yang benar, sebab dengan cara pandang yang benar kita
akan tetap menjadi kuat. Jangan pasrah pada keadaan, jangan menyerah begitu
saja, jangan setuju dengan keadaan yang merugikan dan menyakitkan itu, jangan
hanyut ikut arus masalah itu, lakukan suatu hal yaitu melawan masalah itu
dengan sebuah cara pandang baru yang benar, bahwa diatas segala persoalan yang
sulit itu ada Yesus yang sanggup menolong dan memulihkan.
“Karena
masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang”, Amsal
23:18.
Jangan
pandangi masalah itu, yang dapat menekan dan menghimpit kita, sehingga ketika
kita ikut larut di dalamnya maka membuat kita tidak berdaya dan menjadi lemah
dan pasrah pada masalah. Alihkanlah perhatian kepada FirmanNya yang pasti
digenapiNya bagi setiap orang percaya. Pandanglah kepada Yesus yang empunya
segala kuasa itu. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah ialah Allah yang penuh
kasih. Dia akan memberikan anugerahNya kepada setiap orang yang menaruh
harapannya kepadaNya, dan penjahat itupun memperoleh berkat anugerah
keselamatan dari Yesus.
.
2.
Menanggalkan keegoisan dan mau
bertobat
Awalnya penjahat itu
telah ikut menghujat Yesus, namun kemudian ia tidak malu untuk mengemis
belaskasihan dari Yesus, ia melawan kedagingannya, dengan menanggalkan keegoisannya.
Ia tidak gengsi untuk meminta belaskasihan Yesus. Penjahat itu telah mengubah
cara pandangnya tentang Yesus, bahwa Yesus tidak bersalah, Yesus adalah orang
benar. Pada ayat 39 sampai 41, digambarkan di sana bahwa teman dari penjahat
itu tetap menghujat Yesus, dengan meminta supaya mereka segera diselamatkan
oleh Yesus yang disebut Mesias.
Teman penjahat ini
sangat egois, ia menuntut Yesus supaya mereka dibebaskan. Teman penjahat ini
mengeluh tentang hukumannya, itulah sikap orang yang tidak mau bertobat. Tetapi
penjahat itu menegur temannya dan mengatakan bahwa mereka berdua sepantasnyalah
menerima hukuman itu karena setimpal dengan perbuatan mereka. Yang tidak pantas
adalah Yesus yang harus menerima hukuman yang sama dengan mereka, padahal Yesus
tidak berbuat sesuatu yang salah. Seperti yang dikatakan Pilatus kepada
Imam-Imam kepala dan seluruh orang banyak itu: ”Aku
tidak mendapati kesalahan apapun pada orang ini”. (Lukas 23:4).
Penjahat ini menyadari bahwa hukuman itu pantas dan layak ia terima, sebab itu
ia tidak meminta pada Yesus supaya dibebaskan dari hukuman itu. Pertobatan
adalah kemampuan untuk mengakui dosa dan menerima hukuman.
Banyak hal yang
terjadi dalam kehidupan kita, oleh karena kesalahan ataupun dosa yang telah
kita perbuat yang tanpa kita sadari. Kita merasa benar, oleh sebab itu kita
seringkali menyalahkan orang lain, atau keadaan yang ada, bahkan ada yang
menyalahkan Tuhan, mengganggap Tuhan tidak adil. Sekalipun kita benar dan Tuhan
ijinkan masalah datang, hadapilah itu sebagai sebuah ujian, pasti ada maksud
Tuhan yang baik bagi kita, supaya kita belajar tentang kebenaran Tuhan.
“Kita
tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk
mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil
sesuai dengan rencana Allah”, Roma 8:28.
Jika kita ditegur
oleh Firman Allah, terimalah dengan hati yang terbuka, akui saja dihadapan
Tuhan, sebab tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan. Pakailah Firman Allah
sebagai alat untuk menilai segala sesuatu, terutama untuk mengevaluasi diri
kita. Jangan keras hati, lawanlah keegoisan, sikap yang membenarkan diri,
dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan dan mengakui kesalahan. Tuhan tidak
pernah membiarkan celaka orang yang mau merendahkan diri dihadapanNya.
“Jika
kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan
mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”, 1 Yohanes 1:9.
Penjahat itu
menyadari bahwa ia orang berdosa, dan ia juga menyadari bahwa Yesus itu orang
benar, percaya bahwa Yesus akan datang sebagai Raja.
“Dan
barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”, Matius 23:12b.
Tatkala penjahat itu
mau merendahkan dirinya dan meninggikan Yesus, maka Yesuspun mengangkatnya
dengan memberikan anugerah keselamatan kepadanya.
Anugerah adalah
pemberian Allah dengan cuma-cuma, gratis, yang diberikan pada orang yang tidak
layak menerimanya. Hidup kita dihadapan Tuhan adalah anugerah. Jangan bertahan
pada keadaan yang dapat merugikan, jangan egois. Sekalipun kita telah berbuat
salah, keliru, atau berdosa, asalkan mau bertobat, berbalik dari jalan-jalan
hidup yang lama, datang merendahkan diri dihadapan Tuhan, maka akan dipulihkan
oleh Tuhan, dan percayalah mujizat dan pertolongan Tuhan akan diperoleh.
Mungkin rasa bersalah
yang terus mengikuti, cara untuk menghilangkannya adalah dengan mengakui
kesalahan itu dengan jujur dihadapan Tuhan. Pelanggaran yang belum diampuni
akan mendatangkan jurang pemisah antara kita dengan Allah. Suatu pengakuan yang
jujur adalah langkah untuk berdamai dengan Tuhan dan manusia, sebab yang Tuhan
tuntut hanyalah, “Hanya akuilah kesalahanmu”, ( Yeremia 3: 13).
Pengampunan dan kemurahan Allah tersedia bagi semua orang yang datang kepadaNya
dengan pertobatan yang sungguh-sungguh. Pemulihan selalu disediakan Tuhan.
“Siapa
menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya
dan meninggalkannya akan disayangi”, Amsal 28:13.
.
3. Tidak mengandalkan pikiran
manusia
Akal
sehat manusia bisa saja berkata “ Jika Yesus itu Tuhan, pasti Ia bisa
selamatkan diriNya dari salib. Kenyataannya, Yesus tidak berdaya, dihina,
disiksa, menderita dan disalibkan. Jelas, Ia bukan Tuhan, sebab Ia tidak berdaya,
jadi mana mungkin aku menaruh kepercayaan kepadaNya?”. Itulah yang terjadi pada
saat Yesus disalibkan, banyak orang beranggapan demikian, mengandalkan pikiran
manusia, cara pandang mereka tentang Yesus adalah salah, sebab itu mereka
menghujat Yesus. Yesus berkata: “Ya, Bapa
ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”,
ayat 34a. Jalan pikiran mereka bukanlah kebenaran.
Barangkali
kita telah berdoa dan seolah-olah Tuhan tidak mampu menjawab doa-doa kita, Dia
tidak dapat menolong kita, Dia tidak dapat mengerti keadaan kita, buktinya
keadaan kita belum juga berubah. Cara pandang ini adalah salah. Penjahat itu
tidak lagi mengandalkan pikiran manusia berdasarkan apa yang ia lihat sesuai
kenyataan saat itu bahwa “Yesus tidak berdaya”. Penjahat itu tidak mau hanya
melihat pada kenyataan Yesus yang disalibkan itu, tetapi ia melawan kenyataan
itu dengan cara pandang yang benar yaitu melihat dengan hatinya yang beriman
bahwa Yesus itu akan menang, yang akan datang sebagai Raja, penjahat itu mau
melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh mata. Sebab itulah ia dengan berani
dan percaya, berkata pada Yesus, agar Yesus kelak mengingat dirinya. Kata Yesus
kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”,
ayat 43.
Luar
biasa tanggapan dan jawaban Yesus kepadanya, yang ia minta adalah supaya Yesus
mengingatnya kelak, tetapi yang ia peroleh adalah suatu berkat anugerah yang
sungguh besar, yaitu ia memperoleh keselamatan. Allah melakukan bagi kita bukan
saja dari apa yang kita minta padanya melalui doa, tetapi Allah bahkan
juga sanggup memberikan melebihi apa yang dapat kita pikirkan, dan doakan.
“Bagi
Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau
pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”
Efesus 3:20.
Kenyataan
yang kita hadapi boleh saja jalan yang buntu, sudah tidak ada harapan, atau
pintu sudah tertutup, namun kita bisa melawannya dengan memiliki cara pandang
benar, mengandalkan iman.
“Jawab
Yesus: “Katamu: Jika Engkau dapat ? Tidak ada yang mustahil bagi orang
yang percaya!” Markus 9:23.
Maksud
dari pernyataan Yesus ini bukanlah segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh
manusia, tetapi memerlukan iman yang sungguh-sungguh percaya akan pekerjaan
Tuhan yang sempurna. Kenyataan yang susah, buruk, dan mencemaskan selalu
kelihatan oleh mata jasmanai kita. Kenyataan yang dilihat mata itu memang sulit
untuk disangkal dan itu selalu mengkhawatirkan hati. Untuk menghadapi kenyataan
ini adalah melawannya dengan cara pandang yang benar, yaitu menggunakan Firman
Allah.
.
Masalah boleh ada
untuk melatih diri kita agar dapat melihat yang tidak kelihatan dengan memakai
kebenaran Firman Allah. Kenyataannya ialah semua orang menolak Yesus, dan
menghujat Yesus yang disalibkan. Penjahat itu mau melawan kenyataan yang
dilihatnya, dengan cara pandangnya yang benar, ia tidak ikut arus lagi, ia
menanggalkan keegoisannya dan bertobat, serta tidak mengandalkan pikiran
manusia. Penjahat itu tidak lagi mau dikuasai oleh keadaan yang lihat oleh
matanya, ia melawan kenyataan itu, percaya pada Yesus yang disalibkan itu
adalah sebagai orang benar dan akan menang, kemudian datang sebagai Raja.
Karena itu, iapun memperoleh kehidupan yang kekal, yaitu berkat keselamatan
dari Yesus.
Kita akan berhasil
ketika kita mau melawan kenyataan hidup yang pahit dan sulit itu, dengan cara
pandang yang benar sesuai kebenaran Firman Allah. Kita harus terus belajar
untuk menilai segala sesuatu dengan cara pandang yang benar, supaya kita dapat
menerima berkat Tuhan. Percaya saja pada kemampuan Allah yang sanggup untuk
menolong kita, maka kita pasti menerima berkat dan mujizatNya yang tidak
terbatas itu. Tuhan memberkati saudara.
“Berbahagialah
ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang
menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar